"Asal dari tanah kembali kepada tanah", itu sebuah kalimat sakti yang pernah aku dengar dari sebuah film horor. Tujuannya untuk menghancur-leburkan sosok setan yang menghantu. Sebuah frase yang salah kaprah karena setan berasal dari api dan bukan dari tanah. Tapi di film tak ada yang mustahil, setan itu musnah berabu. Jadi biarlah.
Tampilkan postingan dengan label Prosa Bebas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Prosa Bebas. Tampilkan semua postingan
Senin, 04 November 2013
Sabtu, 02 November 2013
Dibunuh Takut
Tak ada yang terlampau menyedihkan dan pandir melebihi ketakutan pada angan - angan sendiri. Takut pada sesuatu yang belum pasti terjadi. Takut pada sesuatu yang belum pasti ada. Jiwaku, pandir dan menyedihkan. Menurut saja apa - apa kata takut tanpa berani melakukan perlawanan meski sadar semua ucapan takut banyak bohong dan salahnya.
Jumat, 10 Mei 2013
Tuan Pembual dan Tuan Presiden
Seperti Sang Nabi dari Lebanon, aku pun sangat benci dengan Tuan Pembual. Lidahnya berbual semanis madu, tangannya berlipat menggenggam empedu. Apa yang kalian rasakan bila melihat Tuan Pembual berbicara di tivi - tivi? Mual? Muak? Atau malah kagum? Aku sendiri lebih senang mendengar ucapan Squidward Tentacles daripada celoteh Tuan Pembual.
Minggu, 05 Mei 2013
Rindang Meranggas
Selepas bercengkerama dengan hujan, pohon yang tumbuh di tepi jalan itu semakin menghijau saja. Ia tampak begitu berseri dalam dekapan sinar keemasan matahari pagi. Angin yang berhembus lembut menyapa dedaunan dan mengajaknya berdansa.
Selasa, 23 April 2013
Tukang Peluh Dan Tukang Keluh
Ketika matahari perlahan beringsut tepat di atas kepala, dua orang manusia bertemu disalah-sebuah titik sirkulasi yang bernama kelelahan. Yang pertama bernaung disebuah pohon rindang beralas rerumputan dengan tubuh basah kuyup oleh peluh. Sambil menyeka keringat ia bergumam, "Hari begitu cerah, ini kesempatan yang baik untuk segera menyelesaikan pekerjaan ini."
Minggu, 14 April 2013
Mengharap Citra Setinggi Langit, Cinta Di Tangan Dilepaskan
Sang Pelukis buntung itu masygul, ia merasa galau. Lukisannya tak pernah selesai dan hampir semua yang lewat di depan pondok lukisnya selalu mengiangkan komentar sumbang.
Langganan:
Postingan (Atom)




